Belajar dari Praktik
Pengelolaan Pendidikan
Studi tiru menjadi salah satu
cara bagi lembaga pendidikan untuk mendapatkan perspektif baru melalui
pengalaman lembaga lain.
Dalam konteks pendidikan Islam
terpadu, setiap yayasan dan sekolah memiliki karakteristik, tantangan, serta
pengalaman pengelolaan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru dapat menjadi
sumber pembelajaran yang berharga ketika dibagikan melalui forum silaturahmi
dan kunjungan kelembagaan.
Melalui kunjungan ke Yayasan
Al-Izzah Serang, para kepala sekolah yang tergabung dalam rombongan JSIT DIY
memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun komunikasi
dengan jajaran pengelola pendidikan di lingkungan Al-Izzah.
Ketua rombongan JSIT Indonesia
Wilayah DIY, Rojikin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan
tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus belajar dan membuka wawasan
dalam pengelolaan pendidikan.
“Kunjungan kami ke Yayasan
Al-Izzah Serang merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus belajar dan membuka
wawasan. Kami datang bukan hanya untuk melihat apa yang dilakukan oleh
Al-Izzah, tetapi juga untuk berdialog, bertukar pengalaman, dan menemukan berbagai
inspirasi yang dapat kami bawa pulang untuk dikembangkan di sekolah-sekolah
JSIT di Daerah Istimewa Yogyakarta.”
Menurut Rojikin, studi tiru tidak
seharusnya dimaknai sebagai kegiatan untuk sekadar meniru sistem yang
diterapkan lembaga lain. Lebih dari itu, studi tiru menjadi proses untuk
menemukan inspirasi yang kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik
masing-masing sekolah.
“Kami melihat bahwa setiap
lembaga memiliki perjalanan, tantangan, dan keunggulannya masing-masing. Justru
dari keberagaman pengalaman itulah kita dapat saling menguatkan. Mudah-mudahan
pertemuan ini menjadi ruang yang produktif bagi para kepala sekolah untuk
mendapatkan perspektif baru dalam mengelola pendidikan.”
Dari Silaturahmi Menuju
Kolaborasi
Pertemuan antara JSIT Indonesia
Wilayah DIY dan Yayasan Al-Izzah Serang juga membawa pesan penting tentang
perlunya membangun jejaring pendidikan yang lebih luas.
Di tengah dinamika dunia
pendidikan yang terus berkembang, komunikasi antarlembaga menjadi semakin
penting. Sekolah tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengembangkan sistem
internal, tetapi juga membutuhkan wawasan dari berbagai pengalaman lembaga lain.
Melalui silaturahmi, para
pengelola pendidikan dapat saling berbagi perspektif mengenai tantangan yang
dihadapi sekaligus mencari kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan sesuai
konteks masing-masing.
Rojikin menegaskan bahwa hubungan
yang terbangun melalui kunjungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada
kegiatan satu hari.
“Yang paling penting dari
kegiatan ini adalah bagaimana silaturahmi dapat melahirkan kolaborasi. Kami
berharap hubungan yang terbangun hari ini tidak berhenti setelah rombongan
meninggalkan Al-Izzah Serang, tetapi terus berlanjut dalam bentuk komunikasi,
berbagi praktik baik, dan kerja sama yang memberikan manfaat bagi kemajuan
pendidikan Islam terpadu.”
Semangat tersebut sejalan dengan
harapan Yayasan Al-Izzah Serang untuk terus membuka ruang komunikasi dan
kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan.
Memperluas Jejaring Pendidikan
Islam Terpadu
Kehadiran sekitar 50 kepala
sekolah dalam rombongan JSIT Indonesia Wilayah DIY menjadi gambaran bahwa
pengembangan pendidikan membutuhkan ruang perjumpaan yang mempertemukan para
praktisi dan pengelola pendidikan.
Pertemuan semacam ini
memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara langsung. Pengalaman yang
diperoleh dari lembaga lain dapat menjadi bahan refleksi untuk kemudian
dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Lebih jauh, jejaring yang
terbentuk di antara lembaga pendidikan Islam terpadu dapat menjadi modal
penting untuk menghadapi berbagai tantangan pendidikan di masa mendatang.
Yayasan Al-Izzah Serang sendiri
menaungi sejumlah unit pendidikan dengan karakteristik dan program pendidikan
yang beragam. Kehadiran jajaran BPH Yayasan, kepala bagian, dan kepala unit
dalam penyambutan rombongan JSIT DIY menunjukkan bahwa kegiatan tersebut
mendapatkan perhatian dari unsur pimpinan yayasan.
Pertemuan ini sekaligus menjadi
kesempatan bagi masing-masing pihak untuk memperkenalkan pengalaman kelembagaan
dan memperkuat hubungan antarpengelola pendidikan.
Menjadikan Silaturahmi sebagai
Energi untuk Pendidikan
Kunjungan JSIT Indonesia Wilayah
DIY ke Yayasan Al-Izzah Serang pada Jumat, 18 September 2026, menjadi lebih
dari sekadar agenda kunjungan antarlembaga.
Di balik kegiatan tersebut
terdapat semangat untuk terus belajar, berbagi, dan membangun hubungan yang
lebih luas dalam dunia pendidikan Islam terpadu.
Silaturahmi yang mempertemukan
puluhan kepala sekolah bersama jajaran pimpinan Yayasan Al-Izzah Serang
tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari dua wilayah yang
berbeda, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Banten.
Perbedaan latar belakang wilayah
dan pengalaman pengelolaan pendidikan justru menjadi kekuatan untuk saling
melengkapi. Dari perjumpaan tersebut, lahir ruang dialog yang dapat menjadi
sumber inspirasi bagi pengembangan sekolah masing-masing.
Bagi Yayasan Al-Izzah Serang,
kunjungan JSIT DIY menjadi momentum untuk terus memperluas jejaring dan
memperkuat komunikasi dengan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.
Sementara bagi JSIT Indonesia
Wilayah DIY, kunjungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus
belajar dan memperkaya pengalaman para kepala sekolah dalam mengembangkan
pendidikan.
Pada akhirnya, semangat yang
dibawa dalam kegiatan tersebut bukan sekadar studi tiru, tetapi juga
semangat saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kolaborasi
demi menghadirkan pendidikan Islam yang semakin berkualitas.
Dengan terjalinnya silaturahmi
antara JSIT Indonesia Wilayah DIY dan Yayasan Al-Izzah Serang, diharapkan akan
semakin banyak ruang kolaborasi yang dapat dibangun pada masa mendatang,
sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh sekolah, guru, peserta
didik, orang tua, dan masyarakat.