
SERANG, BANTEN — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan studi tiru dan silaturahmi ke Yayasan Al-Izzah Serang, Banten, pada Jumat, 18 September 2026.
Kunjungan tersebut diikuti sekitar 50 orang kepala sekolah yang tergabung dalam rombongan JSIT Indonesia Wilayah DIY. Rombongan dipimpin oleh Rojikin, S.Pd., M.Pd., selaku Pengurus Harian JSIT Indonesia Wilayah DIY.
Kehadiran rombongan JSIT DIY disambut langsung oleh Ketua Yayasan Al-Izzah Serang, Dr. Muhammad Arifin, S.Ag., M.SI, bersama jajaran Badan Pengurus Harian (BPH) Yayasan, Kepala Bagian Yayasan, serta para Kepala Unit pendidikan di lingkungan Yayasan Al-Izzah Serang.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman, gagasan, dan praktik baik dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam terpadu.
Memperkuat Silaturahmi Antar-Lembaga Pendidikan
Kunjungan JSIT Indonesia Wilayah DIY ke Yayasan Al-Izzah Serang tidak hanya menjadi agenda studi tiru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring dan ukhuwah antarpengelola pendidikan Islam.
Sekitar 50 kepala sekolah yang hadir dalam rombongan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan jajaran pimpinan Yayasan Al-Izzah Serang. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog untuk melihat pengalaman masing-masing lembaga dalam mengembangkan pendidikan dan membangun sistem pengelolaan sekolah.
Bagi Yayasan Al-Izzah Serang, kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus membangun komunikasi yang lebih erat dengan para pengelola sekolah Islam terpadu dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ketua Yayasan Al-Izzah Serang, Dr. Muhammad Arifin, S.Ag., M.SI, menyampaikan bahwa silaturahmi antarlembaga pendidikan memiliki nilai penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi atas kunjungan JSIT Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta ke Yayasan Al-Izzah Serang. Bagi kami, silaturahmi seperti ini bukan sekadar kunjungan kelembagaan, tetapi merupakan ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat ukhuwah di antara para penggerak pendidikan.”
Menurutnya, kemajuan pendidikan membutuhkan semangat kolaborasi dan keterbukaan untuk belajar dari pengalaman lembaga lain.
“Kami meyakini bahwa kemajuan pendidikan tidak dapat dibangun sendiri-sendiri. Ada banyak pengalaman, gagasan, dan praktik baik yang dapat kita pelajari dari satu sama lain. Karena itu, pertemuan ini kami harapkan dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih erat dan kolaborasi yang lebih luas antara JSIT DIY dan Yayasan Al-Izzah Serang.”
Ia juga berharap kunjungan tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan pendidikan.
“Semoga apa yang dibicarakan dan dipelajari dalam kunjungan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat memberikan inspirasi dan manfaat nyata bagi pengembangan sekolah, peningkatan kualitas layanan pendidikan, serta lahirnya generasi yang memiliki karakter Islami, kompeten, dan siap menghadapi tantangan zaman.”
Belajar dari Praktik Pengelolaan Pendidikan
Studi tiru menjadi salah satu cara bagi lembaga pendidikan untuk mendapatkan perspektif baru melalui pengalaman lembaga lain.
Dalam konteks pendidikan Islam terpadu, setiap yayasan dan sekolah memiliki karakteristik, tantangan, serta pengalaman pengelolaan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru dapat menjadi sumber pembelajaran yang berharga ketika dibagikan melalui forum silaturahmi dan kunjungan kelembagaan.
Melalui kunjungan ke Yayasan Al-Izzah Serang, para kepala sekolah yang tergabung dalam rombongan JSIT DIY memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun komunikasi dengan jajaran pengelola pendidikan di lingkungan Al-Izzah.
Ketua rombongan JSIT Indonesia Wilayah DIY, Rojikin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus belajar dan membuka wawasan dalam pengelolaan pendidikan.
“Kunjungan kami ke Yayasan Al-Izzah Serang merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus belajar dan membuka wawasan. Kami datang bukan hanya untuk melihat apa yang dilakukan oleh Al-Izzah, tetapi juga untuk berdialog, bertukar pengalaman, dan menemukan berbagai inspirasi yang dapat kami bawa pulang untuk dikembangkan di sekolah-sekolah JSIT di Daerah Istimewa Yogyakarta.”
Menurut Rojikin, studi tiru tidak seharusnya dimaknai sebagai kegiatan untuk sekadar meniru sistem yang diterapkan lembaga lain. Lebih dari itu, studi tiru menjadi proses untuk menemukan inspirasi yang kemudian dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing sekolah.
“Kami melihat bahwa setiap lembaga memiliki perjalanan, tantangan, dan keunggulannya masing-masing. Justru dari keberagaman pengalaman itulah kita dapat saling menguatkan. Mudah-mudahan pertemuan ini menjadi ruang yang produktif bagi para kepala sekolah untuk mendapatkan perspektif baru dalam mengelola pendidikan.”
Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi
Pertemuan antara JSIT Indonesia Wilayah DIY dan Yayasan Al-Izzah Serang juga membawa pesan penting tentang perlunya membangun jejaring pendidikan yang lebih luas.
Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang, komunikasi antarlembaga menjadi semakin penting. Sekolah tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk mengembangkan sistem internal, tetapi juga membutuhkan wawasan dari berbagai pengalaman lembaga lain.
Melalui silaturahmi, para pengelola pendidikan dapat saling berbagi perspektif mengenai tantangan yang dihadapi sekaligus mencari kemungkinan solusi yang dapat dikembangkan sesuai konteks masing-masing.
Rojikin menegaskan bahwa hubungan yang terbangun melalui kunjungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan satu hari.
“Yang paling penting dari kegiatan ini adalah bagaimana silaturahmi dapat melahirkan kolaborasi. Kami berharap hubungan yang terbangun hari ini tidak berhenti setelah rombongan meninggalkan Al-Izzah Serang, tetapi terus berlanjut dalam bentuk komunikasi, berbagi praktik baik, dan kerja sama yang memberikan manfaat bagi kemajuan pendidikan Islam terpadu.”
Semangat tersebut sejalan dengan harapan Yayasan Al-Izzah Serang untuk terus membuka ruang komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai lembaga pendidikan.
Memperluas Jejaring Pendidikan Islam Terpadu
Kehadiran sekitar 50 kepala sekolah dalam rombongan JSIT Indonesia Wilayah DIY menjadi gambaran bahwa pengembangan pendidikan membutuhkan ruang perjumpaan yang mempertemukan para praktisi dan pengelola pendidikan.
Pertemuan semacam ini memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan secara langsung. Pengalaman yang diperoleh dari lembaga lain dapat menjadi bahan refleksi untuk kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Lebih jauh, jejaring yang terbentuk di antara lembaga pendidikan Islam terpadu dapat menjadi modal penting untuk menghadapi berbagai tantangan pendidikan di masa mendatang.
Yayasan Al-Izzah Serang sendiri menaungi sejumlah unit pendidikan dengan karakteristik dan program pendidikan yang beragam. Kehadiran jajaran BPH Yayasan, kepala bagian, dan kepala unit dalam penyambutan rombongan JSIT DIY menunjukkan bahwa kegiatan tersebut mendapatkan perhatian dari unsur pimpinan yayasan.
Pertemuan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi masing-masing pihak untuk memperkenalkan pengalaman kelembagaan dan memperkuat hubungan antarpengelola pendidikan.
Menjadikan Silaturahmi sebagai Energi untuk Pendidikan
Kunjungan JSIT Indonesia Wilayah DIY ke Yayasan Al-Izzah Serang pada Jumat, 18 September 2026, menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan antarlembaga.
Di balik kegiatan tersebut terdapat semangat untuk terus belajar, berbagi, dan membangun hubungan yang lebih luas dalam dunia pendidikan Islam terpadu.
Silaturahmi yang mempertemukan puluhan kepala sekolah bersama jajaran pimpinan Yayasan Al-Izzah Serang tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari dua wilayah yang berbeda, yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta dan Banten.
Perbedaan latar belakang wilayah dan pengalaman pengelolaan pendidikan justru menjadi kekuatan untuk saling melengkapi. Dari perjumpaan tersebut, lahir ruang dialog yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan sekolah masing-masing.
Bagi Yayasan Al-Izzah Serang, kunjungan JSIT DIY menjadi momentum untuk terus memperluas jejaring dan memperkuat komunikasi dengan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah.
Sementara bagi JSIT Indonesia Wilayah DIY, kunjungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk terus belajar dan memperkaya pengalaman para kepala sekolah dalam mengembangkan pendidikan.
Pada akhirnya, semangat yang dibawa dalam kegiatan tersebut bukan sekadar studi tiru, tetapi juga semangat saling belajar, saling menguatkan, dan membangun kolaborasi demi menghadirkan pendidikan Islam yang semakin berkualitas.
Dengan terjalinnya silaturahmi antara JSIT Indonesia Wilayah DIY dan Yayasan Al-Izzah Serang, diharapkan akan semakin banyak ruang kolaborasi yang dapat dibangun pada masa mendatang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat.
Copyright © Yayasan Al-Izzah Serang. All Rights Reserved.